Back to Blog
MarketingTutorials

Link affiliate marketing di Instagram

arikurniawan
arikurniawan
September 4, 2026
6 min read
Link affiliate marketing di Instagram

“Lebih baik menaruh link affiliate di bio atau di Instagram Story?”

Kalau kamu baru mulai menjalankan Link affiliate marketing di Instagram, pertanyaan ini hampir pasti muncul. Sekilas memang terlihat sederhana. Tinggal pilih salah satu tempat, pasang link, lalu tunggu orang mengeklik.

Namun, kalau diperhatikan lebih dalam, masalah utamanya sebenarnya bukan hanya soal posisi link. Orang tidak mengeklik sebuah link semata-mata karena link tersebut berada di bio atau Story. Orang mengeklik karena mereka merasa ada alasan yang cukup kuat untuk melakukannya.

Inilah bagian yang sering terlewat. Banyak kreator sibuk mencari tempat terbaik untuk menaruh link affiliate, tetapi lupa membangun alasan mengapa audiens perlu membuka link tersebut. Akibatnya, link sudah dipasang di berbagai tempat, tetapi jumlah klik tetap rendah.

Jadi, sebelum bertanya mana yang lebih efektif, bio atau Story, ada pertanyaan yang lebih penting:

“apa yang membuat seseorang rela meninggalkan Instagram hanya untuk membuka sebuah link?

Kalau pertanyaan ini belum terjawab, memindahkan link dari bio ke Story atau sebaliknya biasanya tidak akan memberikan perubahan yang terlalu berarti.

Orang Tidak Membuka Instagram untuk Mengklik Link

Coba ingat kebiasaanmu sendiri saat membuka Instagram. Apakah tujuan utamanya memang mencari link untuk diklik? Kemungkinan besar tidak. Sebagian besar orang membuka Instagram untuk melihat konten, mencari hiburan, mengikuti aktivitas orang lain, atau sekadar mengisi waktu beberapa menit.

Artinya, klik terhadap sebuah link bukan perilaku utama pengguna Instagram. Klik adalah tindakan tambahan yang hanya terjadi ketika seseorang merasa ada manfaat yang cukup besar untuk didapatkan. Di sinilah banyak affiliate marketer sering keliru. Mereka mengira klik terjadi karena ada link. Padahal, urutannya justru sebaliknya: orang mengeklik karena mereka sudah tertarik dan mulai percaya, lalu mereka mencari link-nya.

Link hanyalah jembatan. Yang membuat orang mau melewati jembatan tersebut adalah rasa percaya, rasa penasaran, dan keyakinan bahwa di balik klik itu ada sesuatu yang bernilai untuk mereka.

Bio dan Story Memiliki Peran yang Berbeda

Kalau dilihat dari perilaku pengguna, bio dan Story sebenarnya tidak sedang bersaing. Keduanya bekerja pada momen yang berbeda. Bio biasanya dikunjungi setelah seseorang mulai penasaran dengan akunmu. Misalnya setelah mereka melihat beberapa konten, membaca caption, atau merasa informasi yang kamu bagikan memang bermanfaat.

Saat mereka membuka profil, biasanya sudah ada ketertarikan yang lebih tinggi. Mereka ingin tahu siapa kamu, apa yang kamu tawarkan, dan informasi apa lagi yang bisa mereka temukan. Karena itu, orang yang sampai ke bio umumnya memiliki niat yang lebih kuat dibanding orang yang baru melihat satu konten di Explore.

Story berbeda. Story muncul ketika perhatian seseorang masih sangat singkat. Mereka sedang mengetuk layar, berpindah dari satu Story ke Story berikutnya. Kalau pada momen itu muncul rekomendasi produk yang terasa relevan, dekat, dan punya alasan yang jelas, peluang klik bisa meningkat.

Dengan kata lain, bio melayani rasa ingin tahu yang sudah terbentuk. Story memanfaatkan perhatian yang sedang berlangsung. Keduanya bisa efektif, asal digunakan sesuai konteksnya.

Yang Menentukan Klik Bukan Letaknya, melainkan Intent Pengguna

Orang yang membuka bio sebenarnya sudah melakukan satu tindakan penting: mereka memilih mengunjungi profilmu. Keputusan kecil ini menunjukkan bahwa mereka punya ketertarikan lebih tinggi. Dalam marketing, kondisi seperti ini sering disebut high intent. Mereka belum tentu langsung membeli, tetapi mereka sudah cukup tertarik untuk mencari informasi lebih lanjut.

Berbeda dengan Story. Sebagian besar orang belum memiliki niat membeli ketika melihat Story. Mereka hanya sedang menikmati konten. Artinya, intent mereka masih rendah. Karena itulah Story membutuhkan konteks yang lebih kuat. Misalnya, review singkat, pengalaman pribadi, before/after, demonstrasi penggunaan produk, atau alasan mengapa produk tersebut relevan dengan masalah audiens. Tanpa konteks seperti itu, link yang ditempel di Story sering kali hanya menjadi elemen yang dilewati. Bukan karena Story kurang efektif, melainkan karena pengguna belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk berhenti dan mengeklik.

Bukan Sekadar Opini, Perilaku Pengguna Menentukan Peluang di Klik

Dalam digital marketing, tindakan mengeklik link adalah bagian dari customer journey. Sebelum seseorang mengeklik, biasanya mereka melewati beberapa tahapan. Mereka mengenal kontennya, mulai percaya pada kreatornya, merasa produk tersebut relevan, lalu ingin tahu informasi lebih lanjut.

Model seperti ini juga banyak dibahas dalam consumer decision-making, yaitu bahwa keputusan membeli jarang terjadi secara benar-benar spontan. Sebelum mengambil tindakan, konsumen biasanya mengumpulkan informasi, membandingkan pilihan, dan membangun keyakinan terhadap keputusan yang akan diambil.

Artinya, klik bukan awal dari proses pembelian. Klik justru menjadi tanda bahwa proses tersebut sudah mulai berjalan. Karena itu, meningkatkan jumlah klik sering kali tidak dimulai dari mengubah posisi link, melainkan dari memperbaiki konten yang membangun kepercayaan sebelum link itu muncul.

Content Creator Besar Jarang Hanya Mengandalkan Satu Tempat

Kalau diperhatikan, kreator yang berhasil menghasilkan banyak penjualan dari affiliate marketing hampir tidak pernah hanya mengandalkan bio atau hanya mengandalkan Story. Mereka menggunakan keduanya dengan fungsi yang berbeda.

Konten feed atau Reels digunakan untuk membangun perhatian. Story digunakan untuk memperkuat alasan bertindak melalui pengalaman, review, atau penawaran yang lebih personal. Bio menjadi tempat ketika audiens ingin mencari informasi lebih lanjut setelah rasa percaya mulai terbentuk.

Jadi, setiap titik punya perannya masing-masing. Bio dan Story bukan saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Semakin jelas alur kontennya, semakin besar peluang audiens merasa nyaman untuk mengambil langkah berikutnya.

Kesimpulan

Pertanyaan apakah link affiliate lebih baik diletakkan di bio atau Story sebenarnya tidak punya jawaban mutlak. Yang menentukan keberhasilannya bukan hanya posisi link, melainkan niat pengguna ketika melihat link tersebut.

Bio lebih efektif ketika audiens sudah mengenalmu dan ingin mencari informasi lebih lanjut. Story lebih efektif ketika mampu memberikan konteks yang cukup kuat sehingga orang merasa perlu mengambil tindakan saat itu juga.

Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan di mana link harus ditempatkan. Lebih penting membangun alasan yang membuat orang ingin mengekliknya. Sebab, pada akhirnya, orang tidak membuka sebuah link karena letaknya ada di bio atau Story. Mereka membuka link karena percaya bahwa di balik klik tersebut ada sesuatu yang benar-benar bernilai untuk mereka.

Memilih lokasi penempatan link hanyalah satu bagian dari strategi. Agar lebih banyak orang benar-benar melihat dan mengeklik link tersebut, kamu juga perlu memahami bagaimana algoritma Instagram mendistribusikan Story, Feed, dan konten lainnya kepada audiens.

Memilih lokasi penempatan link hanyalah satu bagian dari strategi. Agar lebih banyak orang benar-benar melihat dan mengklik link tersebut, kamujuga perlu memahami bagaimana algoritma Instagram mendistribusikan Story, Feed, dan konten lainnya kepada audiens. Baca selanjutnya: Apa itu Algoritma Instagram? Inilah Cara Instagram Bekerja agar Kamu dapat mengoptimalkan jangkauan konten sekaligus meningkatkan peluang klik pada link affiliate.

Perlu bantuan untuk online marketing bisnismu? Hubungi Mata Badai Studio sekarang!

Ready to Elevate Your Digital Marketing?

Let's discuss how we can help grow your brand online.

Get in Touch