Mengapa Kata “Promo Berakhir Hari Ini” Sangat Efektif?


Pernahkah Kamu menerima nontifikasi seperti ini? Padahal beberapa menit sebelumnya Kamu bahkan tidak berencana membeli apa pun. Namun setelah melihat notifikasi tersebut, Kamu mulai membuka marketplace, mencari-cari produk, hingga mempertimbangkan untuk checkout sebelum voucher itu hangus.
Menariknya, keputusan tersebut sering kali bukan karena produknya benar-benar dibutuhkan. Yang terjadi justru sebaliknya. Kamu merasa rugi jika kesempatan menggunakan voucher tersebut terlewat begitu saja.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai Loss Aversion.

Psikologi Voucher: Akan hangus terasa lebih berharga
Dalam psikologi, manusia cenderung lebih sensitif terhadap kerugian dibanding keuntungan yang nilainya padahal sama. Misalnya:
- Mendapat voucher Rp100.000 terasa menyenangkan.
- Kehilangan voucher Rp100.000 terasa jauh lebih menyakitkan.
Oleh karena itu saat melihat notifikasi:
“Voucher Rp100.000 akan hangus besok.”
Otak tidak focus pada uang yang akan dikeluarkan untuk berbelanja. Sebaliknya, otak akan focus pada kerugian yang akan terjadi bila mana voucher tersebut tidak digunakan se-segera mungkin.
Tau-kah Kamu? bukan sekadar teori : Loss Aversion sudah diteliti
Konsep Loss Aversion diperkenalkan oleh psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui teori Prospect Theory pada tahun 1979. Penelitian mereka menunjukkan bahwa manusia merasakan kerugian lebih kuat dibanding keuntungan yang nilainya sama. Melalui penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa manusia cenderung lebih takut kehilangan daripada senang mendapatkan keuntungan dengan nilai yang sama. Sederhananya, kehilangan Rp100.000 biasanya terasa lebih menyakitkan daripada rasa senang saat mendapatkan Rp100.000.
Temuan inilah yang menjelaskan mengapa banyak strategi marketing lebih menonjolkan apa yang akan hilang jika konsumen tidak bertindak sekarang, dibanding sekadar menjelaskan manfaat yang akan diperoleh. Karena pesan yang menekankan potensi kehilangan sering kali lebih efektif dibanding pesan yang hanya menawarkan keuntungan.
Bagaimana Brand Memanfaatkan Loss Aversion?
Dalam dunia digital marketing, prinsip ini sering digunakan untuk mendorong konsumen mengambil keputusan lebih cepat.
Contohnya:
- Voucher Rp100.000 akan hangus dalam 24 jam.
- Harga promo berakhir malam ini.
- Bonus konsultasi gratis hanya sampai Jumat.
- Kredit iklan gratis akan berakhir minggu ini.
- Cashback akan hangus jika tidak digunakan.
Tujuannya bukan sekadar memberikan informasi, tetapi menciptakan rasa kehilangan jika konsumen tidak segera bertindak. Oleh karena itu, cara menyampaikan sebuah penawaran sering kali sama pentingnya dengan nilai penawaran itu sendiri.
Pertanyaannya, berapa besar diskon yang sebenarnya efektif untuk menarik perhatian konsumen?
Baca : Cara menentukan angka diskon yang bagus.
Perlu bantuan untuk online marketing bisnismu? Hubungi Mata Badai Studio sekarang!
Ready to Elevate Your Digital Marketing?
Let's discuss how we can help grow your brand online.
Get in Touch